Kamis, 19 Februari 2009

Demam kuaci

Guys,, percaya gak?? Di zaman yang cuacanya udah berantakan ini bikin suasana ribet. Bukan Cuma bikin macet, tapi juga bikin kelakuan tambah aneh. Sekarang ini semuanya yang fakta dah jadi kebalik, yang original sama yang bajakan susah banget tuh dibedainnya. Dan teryata ini semua ngefek juga buat anak-anak sekolahan. Biasalah aak remaja, pingin tau ini-itu, pingin nyoba ini-itu, ya…. Yang pasti dengan cara yang salah, ngerokok lah, pacaranlah, markoba lah, mojok sana-sini, wuiih!!!

But,, semua hal gila itu gak berlaku di sini. Semuanya dijadiin cadangan. Katanya “cnita memang gila” tapi di sini “kuaci memang gila”. Because cinta dan kuaci samara bedanya, artinya kalo dimasukin ke rumus fisika tentang kegilaan jadinya kayak gini

Cinta = kuaci = gila

Maka hasilnya = ≠


Cinta = kuaci = gila

Maka hasilnya = ≠

Artiya cinta, kuaci, dan gila susah dibedakan. Mungkin waktu kalian denger nie whaattss??? Ada apa dengan kacang berkulit zebra ini?? Magic kah?? No!! salah tuch!! Because pas gue liat komposisinya gak ada tuch nikotin, atau zat adiktif laennya.

Sebenernya gak aneh sich makanan marmot ini jadi makanan terfavorit di sekolah. Secara kuacinya ibu kantin terbilang paling gurih, renyah, dan betuknya lebih besar. Ditambah lagi tersedia pilihan rasa; susu, coklat, bawang, strawberry, fulcream, fruit,dll. (nach loch rasaya udah kayak permen), dan lagi berguna dijamin tokcer, satu seceng dah bisa ngantongin sebungkus kuaci dengan aneka rasa. Nah loch??

“Iwang!! Hal bodoh apa yang sedang kamu lakukan??”

Glekk!! Iwang menelan 5 buah kuaci bulat-bulat. Seketika wajahnya membiru. Pak Sengkono yang mulai bingung langsung menggotongnya ke mobil sekolah dan melarikannya ke rumah sakit.

Sudah satu minggu Iwang tidak masuk sekolah. Dokter bilang kuacinya membuat saluran pernafasannya sehigga membuatnya sesak. Diperlukan operasi kecil-kecilan untuk mengangkat ke-5 kuacinya. Och…. Iwang!!! Malangnya nasibmu, tak seperti kuaci yang indah bagaikan sebuah conta manis yang kau harapkan...

The end…

Jumat, 06 Februari 2009

^satu lagi buatan zih^


Diary Fariha

Hari ini terasa sangat indah di hati Fariha. Matahari bersinar terang, burung-burung berkicau riang, seriang hati Fariha saat ini. Hari ini Fariha mengikuti lomba menulis se-Provinsi tingkat SD. Fariha suka sekali menulis cerita dan puisi. Bunda selalu memberi semangat kepada Fariha. Pengumuman pemenang lomba sudah dimulai. Jantung Fariha berdebar saat juara ke-1 diumumkan.

“Juara pertama adalah........ Fariha.......!” Sorak si pembawa acara. Fariha memeluk bunda, tak lupa Fariha bersyukur kepada Allah, Fariha maju ke depan,. Fariha mendapatkan piala, uang, dan sebuah kado.

Di rumah, Fariha buru-buru membuka kado itu. Di dalamnya ada sebuah buku berwarna pink dengan kunci gemboknya. Di atasnya ada stiker kupu-kupu besar, dan sebuah pensil berwarna pink bergambar kupu-kupu. Dalam hatinya Fariha bertanya, buku apa ini? Fariha menghampiri bunda. “Bunda, buku ini untuk apa?” Tanya Fariha. Bunda tersenyum “Ini buku diary.” “Diary itu apa bunda, untuk apa?” Fariha penasaran. “Diary itu untuk menulis semua kegiatan yang kita lakukan, atau hal-hal yang menarik hari ini.” Jelas bunda.

“Oooo.....gitu....” Jawab Fariha polos. Sejak saat itu, Fariha rajin sekali menulis di buku diarinya. Biasanya sebelum tidur.

Bunda yang melihat kelakuan puterinya hanya tersenyum. terkadang Fariha lupa waktu karena keasikan menulis hingga larut malam. Seperti malam itu.

“Fariha... ayo tidur!” Teriak bunda.

“Bentar bunda.... tanggung nih....!”

“Ya udah jangan lupa minum susunya ya!” Bunda tidak bisa melarang puterinya ini. Setiap hari Fariha sibuk sekali menulis, makin lama bukunya makin tebal. Setiap bunda mau lihat diarinya Fariha langsung mengunci diarinya. “Rahasia... bunda....” Bisikan Fariha.

Malam itu bunda pulang telat. Ia harus menjenguk Oma di Rumah Sakit. Pulang dari Rumah Sakit bunda buru-buru ke rumah. Fariha di rumah sendirian. Di dalam rumah, saat bunda masuk kamar Fariha, Fariha tertidur di meja belajarnya. Dengan sabar bunda memindahkan Fariha ke kasur, dan mencium keningnya. Dilihatnya meja belajar Fariha, buku diarynya terbuka. Bunda iseng membaca bukunya.

Minggu 10 September 2008

Dear diary:

“Diary,, aku lagi sedih nih... tadi siang bunda ajak aku ke supermarket harusnya aku seneng,,

Tapi.... pulang dari sana aku lihat anak jalanan yang minta-minta uang. Mereka gak sekolah. Kasian deh aku liatnya. Sayangnya aku gak bawa uang waktu itu, pokoknya diary, aku janji kalau aku menang lomba nulis lagi aku bakal kasih uangnya ke anak-anak itu buat makan mereka.

By: Fariha..

Bunda terharu membaca itu. Bunda kembali menutup diarinya. Sorenya Fariha pulang dari sekolah, bunda memeluk Fariha, bunda memberikan selembar kertas kepada Fariha. “Ini lihat, ada lomba menulis cerpen anak se-Indonesia buat tingkat SD, dan temanya bebas, mau ikut gak?” Fariha mengangguk.

Saat lomba tiba Faria sebelumnya sudah mempersiapkan cerpen yang sudah ia buat, dan pengumuman tiba.

“Pemenang lomba menulis tingkat SD adalah.... Fariha..... dengan judul “kisah dua anak jalanan” selamat....!” Fariha bersyukur atas

kemenangannya kepada Allah S.W.T ia kembali mendapatkan hadiah. Isinya buku diary, kebetulan buku diarinya yang dulu hampir habis. Dan uangnya sebagian ia tabung dan sebagian lagi ia berikan pada anak-anak jalanan. Fariha sangat bersyukur karena menulis buku diary membuat dia pandai menulis




prnh sempet d krm ke lomba cerpen anak.cmn klh lg..